Langsung ke konten utama

Paving Block Area Parkir dan Jalan Utama Menuju Gedung Belajar 2 Universitas Bengkulu Rusak, Mahasiswa Sampaikan Kekhawatiran


2025-11-16 17:21:59.221000

Paving block rusak di area Gedung Belajar II

 

Bengkulu Kerusakan pada paving block di area parkir sekaligus jalan utama menuju Gedung Belajar 2 (GB 2) Universitas Bengkulu mulai menjadi perhatian serius mahasiswa. Pada sejumlah titik, permukaan paving terlihat terangkat, retak, dan tidak rata. Kondisi ini paling jelas terlihat di sekitar pohon besar yang berada dekat area parkir dan jalur masuk utama menuju gedung.

 

Berdasarkan pengamatan mahasiswa, akar pohon yang tumbuh menyebar hingga ke permukaan tanah menjadi penyebab utama kerusakan tersebut. Akar yang mendorong struktur paving dari bawah menyebabkan permukaan bergelombang dan menimbulkan celah yang semakin melebar. Kerusakan ini disebut semakin memburuk dalam beberapa bulan terakhir dan belum mendapatkan penanganan signifikan.

 

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena area yang rusak berada pada jalur strategis yang setiap hari dilalui mahasiswa, baik saat berjalan kaki maupun berkendara. Permukaan paving yang tidak rata dinilai dapat membahayakan keselamatan pengguna jalan, berpotensi menyebabkan tersandung, terjatuh, atau tergelincir, terutama saat jam sibuk perkuliahan.

 

Mahasiswa berharap pihak universitas segera melakukan perbaikan menyeluruh, baik pada paving block yang rusak maupun penanganan akar pohon yang menjadi sumber masalah. Mereka menilai pembenahan ini sangat penting mengingat jalur tersebut merupakan akses utama menuju Gedung Belajar 2 dan berperan besar dalam mendukung kegiatan akademik di lingkungan kampus.


Raudhatul Jannah, D1C023068

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengunjung Keluhkan Parkir Liar Pantai Panjang

  Parkir liar di area sekitar pantai panjang Bengkulu- Maraknya parkir liar di kawasan wisata Pantai Panjang, meresahkan pengunjung. Setiap hari, kendaraan memadati kawasan wisata Pantai Panjang justru harus berhadapan dengan juru parkir liar, yang tidak memiliki identitas resmi, menarik biaya tanpa karcis dan menetapkan tarif parkir yang di luar ketentuan. Suasana di lokasi, kendaraan roda dua dan roda empat memadati bahu jalan di sepanjang kawasan Pantai Panjang. Di beberapa titik, juru parkir terlihat meminta uang parkir pada pengunjung satu per satu, tanpa memberikan tanda bukti identitas dan karcis resmi. Beberapa pengunjung mengaku bahwa sering diminta uang parkir tidak hanya sekali. Masalah parkir liar bukan hal yang baru, keluhan seperti ini sering kali memuncak di kawasan Pantai Panjang ketika wisatawan mengunjungi tempat wisata ini seperti saat hari raya, atau ada agenda-agenda besar Kota Bengkulu. Pemerintah Kota Bengkulu menyatakan sudah menetapkan untuk menertibkan...

Krisis Sampah di Kota Bengkulu Semakin Mendesak, Kondisi TPA Memprihatinkan

                                                                                  Kondisi sampah di TPA Bengkulu Bengkulu - Persoalan sampah di Kota Bengkulu kembali mencuat setelah kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dipenuhi gunungan sampah yang kian mengkhawatirkan. Dari pantauan di lokasi, terlihat hamparan sampah yang membentang luas, mulai dari plastik, kain, kertas, hingga sisa rumah tangga yang menumpuk tanpa pengolahan memadai. Di beberapa titik tampak gubuk-gubuk darurat milik para pemulung yang bekerja setiap hari di tengah kondisi lingkungan yang berat. Tumpukan sampah yang terus bertambah ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah di Kota Bengkulu belum berjalan optimal. Dengan meningkatnya produksi sampah harian masyarakat, kapasit...

Tradisi Tabot Bengkulu: Jejak Sejarah dari Karbala hingga Pesisir Sumatera

  Festival Tabot Bengkulu —   Tradisi Tabot yang setiap tahun digelar di Bengkulu memiliki akar sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa Karbala pada tahun 680 M. Ritual ini bermula dari praktik memperingati syahidnya Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, oleh komunitas   Syiah Tamil   yang hidup pada masa kolonial Inggris di wilayah Nusantara. Sejarawan Bengkulu menyebut bahwa Tabot pertama kali dibawa oleh pekerja muslim Tamil asal India Selatan pada awal abad ke-18. Mereka datang ke Bengkulu sebagai bagian dari pasukan dan pekerja yang direkrut East India Company. Kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai   keturunan Tabot   atau   tabut family . Pada masa itu, peringatan Asyura dilakukan sebagai bentuk duka cita terhadap tragedi Karbala ( syahdat Husain ). Ritual tersebut dibawa ke Bengkulu dan mengalami proses akulturasi dengan budaya lokal, sehingga menjadikan Tabot bukan sekadar upacara keagamaan, tetapi menjadi tradi...