Bengkulu — Tradisi Tabot yang setiap tahun digelar di Bengkulu
memiliki akar sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa
Karbala pada tahun 680 M. Ritual ini bermula dari praktik memperingati
syahidnya Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, oleh komunitas Syiah Tamil yang hidup pada masa kolonial Inggris
di wilayah Nusantara.
Sejarawan Bengkulu menyebut bahwa Tabot pertama kali dibawa
oleh pekerja muslim Tamil asal India Selatan pada awal abad ke-18. Mereka
datang ke Bengkulu sebagai bagian dari pasukan dan pekerja yang direkrut East
India Company. Kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai keturunan Tabot atau tabut family.
Pada masa itu, peringatan Asyura dilakukan sebagai bentuk
duka cita terhadap tragedi Karbala (syahdat Husain). Ritual tersebut
dibawa ke Bengkulu dan mengalami proses akulturasi dengan budaya lokal,
sehingga menjadikan Tabot bukan sekadar upacara keagamaan, tetapi menjadi
tradisi budaya yang diwariskan lintas generasi.
Memasuki abad ke-19, Tabot mulai mengalami perubahan
bentuk, terutama setelah kolonial Inggris pergi dan masyarakat lokal mengadopsi
sebagian besar ritualnya. Musik dol, hiasan tabot yang menjulang tinggi, serta
iring-iringan masyarakat adalah hasil perpaduan unsur India, Persia, Melayu,
dan Bengkulu yang kemudian menjadi ciri khas tersendiri.
Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda sempat
membatasi kegiatan Tabot karena dianggap memicu kerumunan besar. Namun, tradisi
tersebut terus dilakukan secara privat oleh keluarga tabot, hingga setelah
kemerdekaan prosesi ini kembali dibuka untuk masyarakat umum.
Pada 2012, Tabot resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda
Indonesia, menegaskan nilai historis dan budaya yang
dimilikinya. Kini, Tabot bukan hanya ritual duka cita, tetapi juga simbol
identitas masyarakat Bengkulu, pengingat bahwa tradisi yang lahir dari
perjalanan sejarah panjang dapat terus hidup melalui pewarisan yang konsisten.
Bagi keturunan tabot, menjaga tradisi ini berarti menjaga
hubungan dengan akar sejarah mereka. Sementara bagi masyarakat Bengkulu, Tabot
telah menjadi penanda kultural yang membentuk memori kolektif tentang
asal-usul, perjumpaan etnis, dan keberagaman budaya yang tumbuh di pesisir
barat Sumatera.
Komentar
Posting Komentar