Langsung ke konten utama

Pengunjung Keluhkan Parkir Liar Pantai Panjang

 

Parkir liar di area sekitar pantai panjang

Bengkulu- Maraknya parkir liar di kawasan wisata Pantai Panjang, meresahkan pengunjung. Setiap hari, kendaraan memadati kawasan wisata Pantai Panjang justru harus berhadapan dengan juru parkir liar, yang tidak memiliki identitas resmi, menarik biaya tanpa karcis dan menetapkan tarif parkir yang di luar ketentuan.

Suasana di lokasi, kendaraan roda dua dan roda empat memadati bahu jalan di sepanjang kawasan Pantai Panjang. Di beberapa titik, juru parkir terlihat meminta uang parkir pada pengunjung satu per satu, tanpa memberikan tanda bukti identitas dan karcis resmi. Beberapa pengunjung mengaku bahwa sering diminta uang parkir tidak hanya sekali.

Masalah parkir liar bukan hal yang baru, keluhan seperti ini sering kali memuncak di kawasan Pantai Panjang ketika wisatawan mengunjungi tempat wisata ini seperti saat hari raya, atau ada agenda-agenda besar Kota Bengkulu. Pemerintah Kota Bengkulu menyatakan sudah menetapkan untuk menertibkan juru parkir liar, terutama dengan mengingatkan bahwa tarif resmi hanya dapat diberlakukan jika diserta karcis berdasarkan peraturan daerah Kota Bengkulu.

Namun, kenyataan di lapangan menunjukan bahwa penertiban masih belum berjalan maksimal. Beberapa titik masih dikuasi oknum yang tidak bertanggung jawab dan sembarangan memungut parkir tanpa izin. Situasi ini membuat pengunjung gerak dan merasa terbebani.

Sementara itu, dari hasil pengamatan di sisi lain kawasan, beberapa juru parkir terlihat mengarahkan kendaraan tanpa menggunakan rompi resmi maupun kartu identitas. Saat ditanya mengenai dasar pungutan parkir, salah satu juru parkir yang enggan menyebutkan namanya hanya menjawab singkat. “Kami di sini sudah dari lama. Kalau enggak kami yang atur, macet semua. Kalau soal karcis, belum dikasih dari dinas,” katanya sebelum kembali ke tugasnya.

Sementara itu, warga berharap penertiban dilaksanakan lebih tegas, terutama pada titik-titik yang setiap hari digunakan sebagai lahan parkir yang tidak resmi. Pengunjung juga berupaya menolak jika diminta membayar uang parkir tanpa ada karcis dan identitas yang jelas dari juru parkir, sebagai langkah untuk mencegah adanya praktik ilegal parkir liar.

Meski berbagai keluhan telah disuarakan, hingga kini parkir liar masih ditemukan di hampir seluruh akses masuk menuju pantai. Pemerintah Kota Bengkulu sebelumnya menyatakan akan memperkuat sistem retribusi resmi dan melakukan pendataan ulang seluruh juru parkir, namun belum ada langkah signifikan yang terlihat.

Hingga saat ini, Pantai Panjang masih menjadi tempat wisata utama bagi warna dan wisatawan. perbaikan sistem pengawasan, penggunaan karcis resmi, serta penertiban juru parkir ilegal menjadi harapan utama masyarakat agar Pantai Panjang dapat kembali menjadi kawasan wisata yang nyaman dan aman bagi semua. Namum, selama masih ada praktik liar yang belum di selesaikan, kenyamanan pengunjung seringkali terganggu oleh tarik-menarin tarif yang tidak jelas dan pungutan tanpa dasar hukum.


Adam Budimansyah, D1C023066

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Krisis Sampah di Kota Bengkulu Semakin Mendesak, Kondisi TPA Memprihatinkan

                                                                                  Kondisi sampah di TPA Bengkulu Bengkulu - Persoalan sampah di Kota Bengkulu kembali mencuat setelah kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dipenuhi gunungan sampah yang kian mengkhawatirkan. Dari pantauan di lokasi, terlihat hamparan sampah yang membentang luas, mulai dari plastik, kain, kertas, hingga sisa rumah tangga yang menumpuk tanpa pengolahan memadai. Di beberapa titik tampak gubuk-gubuk darurat milik para pemulung yang bekerja setiap hari di tengah kondisi lingkungan yang berat. Tumpukan sampah yang terus bertambah ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah di Kota Bengkulu belum berjalan optimal. Dengan meningkatnya produksi sampah harian masyarakat, kapasit...

Tradisi Tabot Bengkulu: Jejak Sejarah dari Karbala hingga Pesisir Sumatera

  Festival Tabot Bengkulu —   Tradisi Tabot yang setiap tahun digelar di Bengkulu memiliki akar sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa Karbala pada tahun 680 M. Ritual ini bermula dari praktik memperingati syahidnya Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, oleh komunitas   Syiah Tamil   yang hidup pada masa kolonial Inggris di wilayah Nusantara. Sejarawan Bengkulu menyebut bahwa Tabot pertama kali dibawa oleh pekerja muslim Tamil asal India Selatan pada awal abad ke-18. Mereka datang ke Bengkulu sebagai bagian dari pasukan dan pekerja yang direkrut East India Company. Kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai   keturunan Tabot   atau   tabut family . Pada masa itu, peringatan Asyura dilakukan sebagai bentuk duka cita terhadap tragedi Karbala ( syahdat Husain ). Ritual tersebut dibawa ke Bengkulu dan mengalami proses akulturasi dengan budaya lokal, sehingga menjadikan Tabot bukan sekadar upacara keagamaan, tetapi menjadi tradi...