Langsung ke konten utama

Kemacetan di Simpang Padang Jati Bengkulu Kian Memburuk, Warga Mulai Resah


Kondisi kemacetan kendaraan di area simpang Padang Jati



Bengkulu — Kemacetan kembali menjadi keluhan utama pengendara yang melintas di kawasan Simpang Padang Jati Kota Bengkulu. Arus kendaraan yang mengarah ke depan Rumah Sakit Bhayangkara hingga persimpangan Jalan Sudirman tampak tersendat sejak pagi hari, terutama saat jam kerja dan jam pulang sekolah.

Pantauan di lokasi menunjukkan antrean kendaraan mengular cukup panjang. Beberapa titik tampak semakin padat akibat adanya kendaraan yang berhenti sembarangan untuk menurunkan penumpang. Kondisi itu membuat badan jalan menyempit dan laju kendaraan semakin lambat. Seorang pengendara motor yang melintas setiap hari, Rizal, mengaku kemacetan belakangan ini jauh lebih parah dibanding biasanya.

“Kalau lewat sini pagi-pagi sekarang harus siap sabar. Dari simpang ke arah pusat kota bisa makan waktu hampir 20 menit,” ujarnya.

Warga sekitar juga menilai kemacetan ini semakin sering terjadi sejak adanya perbaikan trotoar dan drainase yang memakan sebagian jalur kendaraan. Selain itu, banyaknya kendaraan yang memaksa masuk dari arah jalan kecil di sekitar area pertokoan membuat situasi semakin semrawut. Para pedagang yang berada di tepi jalan pun ikut merasakan dampaknya. Mereka mengaku pelanggan mulai enggan singgah karena sulit mendapatkan tempat parkir dan takut terjebak semakin lama dalam antrean kendaraan.

Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat adanya rekayasa lalu lintas yang mampu mengurai kemacetan di kawasan tersebut. Warga berharap pemerintah kota dan pihak terkait dapat melakukan pengaturan arus lalu lintas secara lebih efektif, setidaknya pada jam-jam rawan. Kemacetan yang terus memburuk tidak hanya mengganggu mobilitas harian, tetapi juga dikhawatirkan berdampak pada keselamatan pengendara serta aktivitas ekonomi di pusat kota.

 

Afrillia Beliana, D1C023076

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengunjung Keluhkan Parkir Liar Pantai Panjang

  Parkir liar di area sekitar pantai panjang Bengkulu- Maraknya parkir liar di kawasan wisata Pantai Panjang, meresahkan pengunjung. Setiap hari, kendaraan memadati kawasan wisata Pantai Panjang justru harus berhadapan dengan juru parkir liar, yang tidak memiliki identitas resmi, menarik biaya tanpa karcis dan menetapkan tarif parkir yang di luar ketentuan. Suasana di lokasi, kendaraan roda dua dan roda empat memadati bahu jalan di sepanjang kawasan Pantai Panjang. Di beberapa titik, juru parkir terlihat meminta uang parkir pada pengunjung satu per satu, tanpa memberikan tanda bukti identitas dan karcis resmi. Beberapa pengunjung mengaku bahwa sering diminta uang parkir tidak hanya sekali. Masalah parkir liar bukan hal yang baru, keluhan seperti ini sering kali memuncak di kawasan Pantai Panjang ketika wisatawan mengunjungi tempat wisata ini seperti saat hari raya, atau ada agenda-agenda besar Kota Bengkulu. Pemerintah Kota Bengkulu menyatakan sudah menetapkan untuk menertibkan...

Krisis Sampah di Kota Bengkulu Semakin Mendesak, Kondisi TPA Memprihatinkan

                                                                                  Kondisi sampah di TPA Bengkulu Bengkulu - Persoalan sampah di Kota Bengkulu kembali mencuat setelah kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dipenuhi gunungan sampah yang kian mengkhawatirkan. Dari pantauan di lokasi, terlihat hamparan sampah yang membentang luas, mulai dari plastik, kain, kertas, hingga sisa rumah tangga yang menumpuk tanpa pengolahan memadai. Di beberapa titik tampak gubuk-gubuk darurat milik para pemulung yang bekerja setiap hari di tengah kondisi lingkungan yang berat. Tumpukan sampah yang terus bertambah ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah di Kota Bengkulu belum berjalan optimal. Dengan meningkatnya produksi sampah harian masyarakat, kapasit...

Tradisi Tabot Bengkulu: Jejak Sejarah dari Karbala hingga Pesisir Sumatera

  Festival Tabot Bengkulu —   Tradisi Tabot yang setiap tahun digelar di Bengkulu memiliki akar sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa Karbala pada tahun 680 M. Ritual ini bermula dari praktik memperingati syahidnya Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, oleh komunitas   Syiah Tamil   yang hidup pada masa kolonial Inggris di wilayah Nusantara. Sejarawan Bengkulu menyebut bahwa Tabot pertama kali dibawa oleh pekerja muslim Tamil asal India Selatan pada awal abad ke-18. Mereka datang ke Bengkulu sebagai bagian dari pasukan dan pekerja yang direkrut East India Company. Kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai   keturunan Tabot   atau   tabut family . Pada masa itu, peringatan Asyura dilakukan sebagai bentuk duka cita terhadap tragedi Karbala ( syahdat Husain ). Ritual tersebut dibawa ke Bengkulu dan mengalami proses akulturasi dengan budaya lokal, sehingga menjadikan Tabot bukan sekadar upacara keagamaan, tetapi menjadi tradi...